Monday, 27 April 2015

ANALISIS TRANSAKSIONAL



ANALISIS TRANSAKSIONAL
A.    Konsep Terapi
Analisis transaksional (AT) adalah suatu pendekatan psikoteraputik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis (Cooper & Turner, 1996). Analiss transaksional – gagasan Eric Berne (1910-1970) – merupakan suatu pengaruh di antara manusia yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan eksperesi diri).

Tujuan Berne ialah untuk mensisntesiskan gagasan-gagasannya dengan menggunakan istilah-istilah yang dapat dipahami, sehingga klien dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengorganisasikan arah penanganannya sendiri. Pembuatan kontrak yang sepakati menyatukan klien dengan terapis dalam suatu usaha bersama. Tinjauan teoritik tentang analisis transaksional dikaitkan dengan suatu pendektan yang mengaitkan internal (intrapsikis) dengan interpersonal dan relasional. Pada intinya, makna analisis transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan-kemampuan menghadapi (coping) dan mengatur (regulatory) situasi yang paling dalam interaksi kehidupan nyata.

B.     Unsur-Unsur Terapi
Analisis transaksional meyakini pada diri individu terdapat unsur-unsur  kepribadian yang terstruktur dan itu  merupakan satu kesatuan yang disebut dengan “ego state”. Adapun unsur kepribadian itu terdiri dari kategori:
¾    keadaan ego (ego states)
¾    Transaksi (transactions)
¾    Permainan dan drama segitiga (games and the drama triangle)
¾    Naskah (Scripts)
¾    Gerakan dan lakon cerita (stokes and scriptwork)
¾    Posisi kehidupan (life positions)
¾    Perintah dan keputusan ulang naskah (script injuctions and redocision)

Tujuan dan sasaran analisis transaksional :
Tujuan dasar dari analisis transaksional adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan manipulative dan oleh scenario-skenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup yang otonom yang ditandai oleh kesadaran, spontanitas dan keakraban. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi keputusan-keputusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang mandul dan determistik

Peranan konselor :
    Berusaha memberikan tanggung jawab kepada klien atas kehidupannya. Karena pada hakekatnya manusia bertanggung jawab atas kehidupannya.
    Menyediakan lingkungan yang menunjang. Untuk mencapai perubahan klien atau keseimbangan klien, konselor berusaha sebagai penyedia fasilitas yang mendorong perubahan pada klien.
    Memisahkan mitologi dan realitas, karena banyak klien yang dipengaruhi oleh mitologi yang telah lama didapatnya.
    Melakukan konfrontasi atas keanehanyang tampak, keanehan atau keadaan ego state klien yang tidak seimbang dapat diperbaiki konselor dengan melakukan konfrontasi. Konselor hendaknya bisa mengkonstruksi menjadi seimbang.
C.    Proses konseling analisis transaksional
Proses terapi analisis transaksional ini dilakukan tiap transaksi yang dianalisis. Klien yang nampaknya mengelakkan tanggung jawab diarahkan untuk menerima tanggung jawab pada dirinya. Tahapan proses konseling analisis transaksional :

    Bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak dengan klien, baik mengenai masalah ataupun tanggung jawab kedua belah pihak.
    Pada bagian kedua baru mengajarkan klien tentang egois state nya dengan berdiskusi.
    c. Membuat kontrak yang dilakukan klien sendiri, yang berisikan apa yang akan dilakukan klien, bagaimana klien akan melangkah, dan klien tau kapan kontraknya habis.
    Setelah kontrak ini selesai, baru konselor bersama klien menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan konseling.

D.    Teknik-teknik Analisis Transaksional
Teknik-teknik analisis transaksional banyak menggunakan teknik pendekatan gestalt. James Jongeward (1971) mengkombinasikan konsep dan proses analisis transaksional dengan eksperimentasi gestalt dan kombinasi ini memberikan hasil yang menjanjikan pada self-awareness dan autonomy (Corey, 1986).

Metode Didaktik (Didactic Method)
Prosedur mengajar dan belajar adalah dasar dari pendekatan ini.

 Metode Kursi Kosong (Empaty Chair)
Teknik ini merupakan adopsi dari pendekatan gestalt, teknik ini biasa digunakan untuk structural analysis. McNeel mendeskripsikan bahwa teknik yang menggunakan dua kursi ini merupakan cara yang efektif untuk membantu konseling untuk mengatasi konflik masa lalu dengan orang tua atau orang lain pada masa kecil.
  Bermain Peran
     Penokohan Keluarga (Family Modelling)
Daftar Pustaka
Roberts, Albert. J, Gilbert. (2009) Buku Pintar Pekerja Sosial. BPK Gunung Mulia

No comments:

Post a Comment