Tuesday, 9 June 2015

TUGAS SOFTSKILL - TERAPI REALISTIS

Glasser (1975) memperkenalkan terapi realitas sebagai salah satu pendekatan terapi untuk mengatasi berbagai bentuk gangguan psikologis. Sebagai seorang psikiater, ia banyak menemukan kenyataan bahwa berbagai gangguan psikologis yang dialami oleh pasien, yang dirawat di rumah sakit, dilandasi oleh upaya pasien melarikan diri dari tanggung jawab hidupnya. Karena landasan utama terapi realitas adalah untuk memenjarakan pasien untuk bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dilakukannya, dan bukan membenamkan diri dalam perasaan-perasaan yang dialaminya.
TEKNIK-TEKNIK DALAM KONSELING TERAPI REALITAS :
1.  Menggunakan role playing dengan konseli
2.  Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks
3.  Tidak menjanjikan kepa da konseli maaf apapun, karena terlebih dahulu  diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien.
4.  Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya.
5.  Membuat model - model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik.
6.  Membuat batas- batas yang tegas dari s truktur dan situasi terapinya
7.  Menggunakan terapi  kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas.
Konsep penting yang dikemukakan Glasser dalam melakukan terapi realitas adalah:
1. Setiap orang harus diberi pemahaman bahwa dirinya bertanggung jawa atas penderitaannya. Ia tidak boleh membebankan tanggung jawabnya kepada orang lain
2. Individu harus menyadari bahwa sejarah hidup tak dapat kembali diulang. Kembali ke masa lalu adalah hal yang tidak mungkin, yang harus dilakukan adalah mengubah diri sendiri untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan
3. Individu harus belajar berinteraksi dengan orang lain karena setiap hubungan interpersonal adalah hal yan unik, dan individu harus belajar membina hubungan yang unik sesuai dengan keunikan hubungan interpersonalnya.
4. Alam ketidaksadaran tidak bias dijadikan oleh individu sebagi penganggu. Ia harus bias bertanggung jawab atas hal-hal yang diperbuatnya
5. Harus ada pengakuan benar-salah, oleh karena itu harus ada peraturan yang mengatur individu
6. Individu harus bertingkah laku sesuai dengan kondisi yang ada.


DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa, S. D. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Clinebell. H., (2002). Tipe-tipe dasar pendampingan dan konseling pastoral. Yogyakarta. Kanisius