Menurut Kabid Humas Polda
Metro Jaya, Kombes Rikwanto yang ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jumat
(7/3/2014) mengatakan bahwa dipastikan motif Hafitd dan Assyifa dalam
menghabisi Ade Sara berbeda. "Pembunuhan Ade Sara sudah direncanakan oleh
HF dan Assyifa seminggu sebelum eksekusi, dengan motif masing-masing yang
berbeda," ujarnya.
Menurut Riwanto, motif
Hafitd ingin menghabisi Sara lantaran sakit hati karena korban tak ingin lagi
bertemu dengannya. Sementara motif Assyifa, karena cemburu. Sara dianggap
Assifa mengganggu hubungan asmaranya dengan Hafitd.
"Assyifa adalah pacar
baru HF dan dia merasa cemburu pada korban. Oleh karena itu, keduanya memiliki
niat dan motif yang berbeda dan bersepakat mencari waktu tepat untuk menghabisi
Sara," ungkap Rikwanto.
A : HF dan S, menggunakan
mobil KIA VISTO, Senin 3/3 sekitar pukul 07:30 WIB bertemu dengan korban di
Stasiun Gondangdia. S mengajak korban masuk ke dalam mobil dan bertemu HF. Lalu
mengungkapkan akan mengantarkan ke tempat les bahasa asing di Gondangdia. Lalu
S dan HF berpura-pura berkelahi, lalu S menangis dan memegang tangan korban.
B C D E : HF langsung
menyetrum korban sekitar 3 menit dan korban berteriak minta tolobf. Selanjutnya
korban diajak berputar-putar oleh kedua pelaku dari Gondangdia ke Menteng,
Cempaka Putih, hingga ke Taman mini, dan kembali ke Rawa Mangun melalui jalan
tol.
F : Tepat pukul 13:30 kedua
pelaku berhenti di Tol Rawamangun, sebelum pintu keluar korban dicekik dan
disetrum lagi, namun korban masih belum meninggal. Selanjutnya mobil masih
berjalan di daerah Rawa Mangun. Korban di cekik dan disetrum kembali dan dibawa
ke daerah Kemayoran. Dalam perjalanan dari Rawa mangun menuju Kemayoran, pelaku
S memasukkan tissu atau Koran ke dalam mulut korban.
Sekitar
pukul 00:30 pelaku tiba di Kemayoran dekat apartemen ITC Kemayoran, diketahui
bahwa korban telah meninggal. Tiba-tiba mobil pelaku mogok kemudian HF meminta
tolong kepada sopir taksi untuk mengecas accu sampai mobil hidup kembali,
sedangkan korban masih di dalam mobil pelaku.
Selanjutnya
mobil jalan kembali, namun sekitar 200 meter mesin mobil pelaku mati lagi dan
HF meminta bantuan kepada temannya untuk dicarikan accu, dan temannya bertanya
siapa yang ada di dalam mobil, dijawab oleh HF mayat, namun teman pelaku diam
saja.
G: selasa (4/3) sekitar
pukul 11:00 setelah accu diganti, mobil masih tersendat-sendat. Pelaku mencari
bengkel dan menuju Rawa Mangun, namun menemukan bengkel di daerah salemba.
Pukul 17:30 WIB ketika mobil masuk bengkel korban masih tetap berada di
belakang mobil, di tutupi kain pashmina milik pelaku S.
H: setelah mobil hidup
kembali, kedua pelaku tak mendapatkan tempat yang aman sehingga berputar-putar
kembali ke wilayah Jakarta Timur. Dan akhirnya pelaku masuk ke tol Bintara
Bekasi Barat. Pada pukul 21:00 di KM 49 arah Bekasi korban dibuang di pinggir
tol.
I J: menuju jati asih dan
dalam perjalanan, pelaku membuang barang beruba sisa tisu, Koran, dan dompet
miilik korban. Lalu keluar tol Jati Asih dan masuk kembali ke tol Jati Asih
menuju Bintara. Kedua pelaku kemudian keluar menuju Indomaret Pulo Gebang untuk
membersihkan sisa-sisa Koran lalu membuang sepatu dan tas korban. Selanjutnya
kedua pelaku pulang kerumah mereka.
Karena
pembunuhan ini direncanakan, yaitu dengan menyediakan alat untuk menyetrum
korban, membawa Koran, sampai ber-akting dengan pura-pura bertengkar di dalam
mobil maka Pelaku diancam Pasal 340 KUHP yang berbunyi:
“Barang siapa sengaja dan dengan rencana
lebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan
rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau
selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”
2.
pembunuhan Mia Nuraini
Belum
reda tentang pemberitaan kasus Ade Sara di Televisi, terjadi pembunuhan yang
menewaskan Mia Nuraini. Saat pemeriksaan mulai terungkap bahwa motif pembunuhan
ini bukan bertujuan untuk merenggut nyawa Mia, tetapi awalnya Anto (mantan
pacar Mia) ingin balas dendam karena pacar baru Mia (Soni) pernah memukul Anto.
Awalnya
hari itu (12/3) Anto dan rekannya AR menyerang Soni dengan gir motor namun
meleset dan terkena kepala Mia, ujar AKBP Novi Nurrohmad. Kejadian ini
dilaporkan oleh masyarakat ke Polsektro Cilandak Rabu (12/3) malam pukul 01:30
dan sekitar 4 jam setelah kejadian, 6 dari 8 orang pelaku yang mengeroyok
korban berhasil ditangkap. Pelaku pengeroyokan ini terdiri dari 2 orang
perempuan dan 6 orang laki-laki.
Atas
perbuatannya pelaku A dan AS dikenakan pasal 170 ayat 3 tentang pengeroyokan
dengan ancaman 9 tahun penjara. Isi dari pasal 170 ayat 3 yang berbunyi: ”Barangsiapa
terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang
atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan”
Yang bersalah diancam:
Ke-1. Dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun, jika
dengan sengaja menghancurkan barang atau kekerasan yang digunakan mengakibatkan
luka-luka;
Ke-2. Dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun,
jika kekerasan mengakibatkan luka berat;
Ke-3 Dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun, jika kekerasan mengakibatkan maut.
Analisa:
Faktor
yang mempengaruhi kedua Kasus di atas berawal dari sakit hati, kemudian menjadi
dendam yang tidak tertahankan sehingga meledak menjadi agresivitas dan bisa
juga diakibatkan karena kemajuan teknologi. Pemimpin redaksi News and World
Report dalam laporannya menyatakan bahwa TV dalam keluarga merupakan variabel
yang sangat kuat pengaruhnya terhadap pekembangan hubungannya terhadap remaja;
termasuk timbulnya perilaku nakal. Sebab, di Amerika para remaja yang berusia
18 tahun telah menyaksikan 200.000 adegan kekerasan di layar TV. Dalam
Television and Growing Up: the impact of Children juga ditegaskan bahwa selain
acara di TV, situasi keluarga merupakan faktor utama yang menyebabkan perilaku
nakal remaja.
Dalam
salah satu tayangan TV berbayar seringkali ditayangkan macam-macam kasus
pembunuhan dengan motif yang berbeda dan dengan cara membunuh yang berbeda
pula, tersangka sangat mungkin untuk terinspirasi dari salah satu tayangan TV
berbayar ini.
Dilihat
dari teori Sigmund Freud tentang Id, Ego dan Super ego dimana
Id yang berisi tentang dorongan naluriah, tidak rasional, tidak logis, tidak
sadar, amoral dan bersifat memenuhi kesenangan, Id merupakan kepribadian yang
orisinil. Tugas utama Ego adalah mengantarkan dorongan dari Id dengan kenyataan
yang ada di luar dunia sekitar. Super ego adalah kode moral individu yang tugas
utamanya adalah mempertimbangkan apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar
atau salah. Super ego mempersentasikan hal-hal yang ideal bukan hal-hal yang
riil, serta mendorong kea rah kesempurnaan bukan ke arah kesenangan.
Jika
ketiganya sudah menyatu dalam Super ego dan seseorang yang telah mampu
mengembangkan super ego-nya dengan baik, akan memiliki kecenderungan yang
didasarkan atas nilai-nilai luhur dan aturan moral tertentu sehingga akan
terwujud dalam perilaku yang bermoral.
Dalam kedua kasus ini,
pelaku tidak mampu mengembangkan super ego-nya dengan baik sehingga melanggar
aturan moral yang ada. Dan tidak memiliki Self Awareness, bila
sesorang aware dengan dirinya dan orang lain, maka mereka akan bisa mengolah
emosinya dengan baik.
Perlu
ditinjau lagi bagaimana pola asuh orangtua terhadap pelaku dan korban, karena
pola asuh sangat berperan disini. Begitu juga dengan sikap orangtua
di hadapan pelaku pembunuhan ini, apakah mudah emosi,
Sering memukuli anggota
keluarga atau kurang mengawasi anaknya.
Analisa:
-Menurut kamus Besar Bahasa
Indonesia : cemburu adalah keirihatian, kesirikan, kecurigaan,
kekurangpercayaan
-Kamus sinonim indonesia :
cemburu adalah berprasangka, sirik, panas hati
-Kamus Melayu : cemburu
adalah iri hati, curiga, berjaga-jaga..
Dapat disimpulkan bahwa
sifat cemburu, jealous atau iri hati ini lebih mengarah ke arah negatif dan
kasus 1, 3 diatas menujukan sifat cemburu dan tidak bisa mengolah emosinya
dengan baik, sehingga menyebabkan pelaku melakukan hal-hal yang melanggar norma
yang berlaku.
kasus diatas tentu saja
berhubungan dengan Psikologi, karena menyangkut tentang kejiwaan seseorang,
karena dimana ada manusia, disitulah ada psikologi. Dimana ada masalah pasti
ada penyebab dari permasalahan itu sendiri dan ada pula dampak dari permasalahan
tersebut.
Daftar Referensi: 1. Ali
dan Asrori (2004). Psikologi Remaja. Bumi Aksara. Jakarta. ISBN: 979-526-959
2. Piaget, Jean dan
Inhelder Barbel (1969). The Psychology of the child. Basic Books, New York
3. Hapsari,
Swita.(2014, Maret 17). Petaka Cinta Cabut Nyawa Ade Sara. Nova, 1360,
54-55