Monday, 16 November 2015

CBIS (SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER)





Sistem informasi berbasis komputer meruoakan sebuah sistem yang terintegrasi, sistem-manusia-mesin yang memanfaatkan perangkat keras, perangkat lunak, database, dan prosedut yang bertujuan untuk menyediakan informasi yang mendukung kegiatan organisasi (Marimin, Tanjung & Prabowo, 2006).
Menurut Umar (2005), CBIS merupakan evolusi sistem informasi yang berbasiskan komputer yang tahapannya memperlihatkan  perkembangan kemajuan teknologi sistem informasi sekaligus pemanfaatannya oleh orang-orang yang berkepentingan dalam perusahaan.
Stair (dalam Fatta,2007)) menjelaskan bahwa sistem informasi berbasis komputer (CBIS) dalam suatu organisasi terdiri dari komponen-komponen berikut:
a. Perangkat keras, yaitu perangkat keras komponen untuk melengkapi kegiatan memasukkan data, memproses data, dan keluaran data.
b. Perangkat lunak, yaitu program dan instruksi yang diberikan ke komputer.
c. Database yaitu kumpulan data dan informasi yang diorganisasikan sedemikian rupa sehinga mudah diakses pengguna sistem informasi.
d. Telekomunikasi, yaitu komunikasi yang menghubungkan antara pengguna sistem dengan sistem komputer secara bersama-sama ke dalam suatu jaringan kerja yang efektif.
 SIA (Sistem Informasi Akuntansi)
Sistem informasi akuntansi merupakan sebuah sistem informasi yang mengubah data transaksi bisnis menjadi informasi keuangan yang berguna bagi pemakainya.
Segala terjadi dengan sederhana pada sebuah perusahaan bila ditempuh melalui SIA. Saat tindakan berlangsung dan transaksi terjadi, data dimasukkan ke dalam basis data.
Tujuan dari SIA adalah:
§  Mendukung operasi sehari-hari
§  Mendukung pengambilan keputusan manajemen
§  Memenuhi kewajiban yang berhubungan dengan pertanggung jawaban.

SIM (Sistem Informasi Manajemen)
Menurut Fatta (2007) sistem informasi manajemen (SIM) adalah sebuah sistem informasi pada level manajemen yang berfungsi untuk membantu perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan dengan menyediakan resume rutin dan laporan-laporan tertentu. SIM mengambil data mentah dari TPS dan mengubahnya menjadi kumpulan data yan lebih berarti yang dibutuhkan manajer untuk menjalankan tanggung jawabnya. Untuk mengembangkan suatu SIM, diperlukan pemahaman yang baik tentang informasi apa saja yang dubutuhkan manajer dan bagaimana mereka menggunakan informasi tersebut.
SPK (Sistem Pendukung Keputusan)
Sistem pendukung keputusan adalah sistem berbasis computer yang membantu para pengambil keputusan mengatasi berbagai masalah melalui interaksi langsung dengan sejumlah database dan perangkat lunak analitik.
Tujuannya adalah untuk menyimpan data dan mengubahnya ke informasi yang terorganisir yang dapat diakses dengan mudah sehingga keputusan –keputusan yang diambil dapat dilakukan dengan cepat, akurat dan murah. Para manager dapat membuat keluaran (output) untuk masalah khusus yang berkenaan dengan kualitas.
SOP/OA
Sistem OA menyediakan kemampuan telekomunikasi untuk orang-orang di dalam perusahaan dan memampukan mereka untuk berkomunikasi di antara mereka sendiri dengan para penyalur, serta para pelanggan di lingkungan perusahaan. Komunikasi ini membuat kelompok tanggung jawab kualitas, seperti komite dan kelompok proyek, untuk menyelaraskan upaya kemampuan telekomunikasi tersebut.. Pengolahan kata, surat elektronik, surat suara dan pemindahan facsimile dapat memenuhi kebutuhan ini dengan baik. Aplikasi OA lainnya seperti tatap muka melalui video/gambar, pertemuan atau temu wicara melalui suara.
Sistem Pakar
Expert system atau sistem pakar menurut Fatta (2007) merupakan representasi yang menggambarkan cara seorang ali dalam mendekati suatu masalah. Sistem pakar lebih berpusat pada bagaimana mengodekan dan memanipulasi pengetahuan dari informasi. Adapun cara kerja sistem pakar adalah sebagai berikut:
a. Pengguna berkomunikasi dengan sistem menggunakan dialog interaktif.
b. Sistem pakar menyanyakan pertanyaan (jawaban akan ditanyakan seorang pakar) dan  pengguna memberikan jawaban.
c. Jawaban digunakan untuk menentukan aturan mana yang dipakai dan sistem pakar menyediakan rekomendasi berdasarkan aturan yang telah disimpan.
d. Seorang knowledge engineer bertanggung jawab pada bagaimana melakukan akusisi pengetahuan, sama seperti seorang analis tetapi dilatih untuk menggunakan teknik yang berbeda.


Daftar Pustaka

Fatta, H. A. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Gaol, C. J. L. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo
oniyo, A., Kusrini. (2007). Tuntunan praktis membangun sistem informasi akuntansi dengan visual basic dan Microsoft SQL server. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Laudon, K. C., Laudon, J. P. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Penerbit Salemba Empat
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tuesday, 20 October 2015

Pengertian Sistem Informasi Psikologi

1.      Pengertian Sistem
Sistem menurut Indrajit, 2001 (dalam Hutahaean, 2015) mengandung arti kumpulan-kumpulan dari komponen-komponen yang dimiliki unsur keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Menurut Jogianto, 2005 (dalam Hutahaean, 2015) sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan yang nyata adalah suatu objek nyata, seperti tempat, benda, dan orang-orang yang betul-betul ada dan terjadi. Sedangkan menurut Murdick, 1991 (dalam Hutahaean, 2015) suatu sistem adalah seperangkat elemen yang membentuk kumpulan atau prosedur-prosedur/bagan-bagan pengolahan yang mencari suatu tujuan tertentu.
Dari beberapa pengertian sistem diatas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen atau komponen-komponen yang membentuk kumpulan atau prosedur-prosedur/bagan-bagan pengolahan dan berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Menurut Marimin, Tanjung & Prabowo (2006), sifat-sifat dasar dari suatu sistem antara lain:
a.  Pencapaian tujuam, orientasi pencapaian tujuan akan memberikan sifat dinamis kepada sistem, memberi ciri perubahan yang terus menerus dalam usaha mencapai tujuan.
b.  Kesatuan usaha, mencerminkan suatu sifat dasar dari sistem, dimana hasil keseluruhan melebihi dari jumlah bagian-bagiannya atau sering disebut konsep sinergi.
c.  Keterbukaan terhadap lingkungan, lingkungan merupakan sumber kesempatan maupun hambatan pengembangan. Keterbukaan terhadap lingkungan membuat penilaian terhadap suatu sistem menjadi relatif atau dinamakan equifinality atau pencapaian tujuan suatu sistem tidak mutlak harus dilakukan dengan satu cara terbaik. Tetapi pencapaian tujuan suatu sistemdapat dilakukan melalui berbagai cara sesuai dengan tantangan lingkungan yang dihadapi.
d.  Transformasi merupakan proses perubahan input menjadi output yang dilakukan oleh sistem.
e.  Hubungan antarbagian, kaitan antara subsistem inilah yang akan memberikan analisis sistem, suatu dasar pemahaman yang lebih luas.
f.   Sistem ada berbagai macam yaitu sistem terbuka, sistem tertutup, dan sistem dengan umpan balik
g.  Mekanisme pengendalian, mekanisme ini menyangkut sistem umpan balik yang merupakan suatu bagian yang member informasi kepada sistem mengenai efek dari perilaku sistem terhadapa pencapaian tujuan atau pemecahan persoalan yang dihadapi.

B.     Pengertian Informasi
Menurut Gordon B. Davis (1984:200), Informasi adalah data yang telah di proses atau di olah kedalam bentuk yang sangat berarti untuk penerimanya dan merupakan nilai yang sesungguhnya atau dipahami dalam tindakan atau keputusan yang sekarang atau nantinya.
Kemudian menurut Kenneth C. Laudon (2004:8), Informasi adalah data yang sudah dibentuk kedalam sebuah formulir bentuk yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk manusia.
Sedangkan menurut Anton M. Moeliono (1990:33), Informasi adalah penerangan, keterangan, pemberitahuan, kabar atau berita ( tentang). Selanjutnya, Anton M. Moeliono (1990:187), mengatakan bahwa informasi juga adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian analis atau kesimpulan.

C.     Pengertian Psikologi

Ditinjau dari segi ilmu Bahasa, kata psikologi  berasal dari kata psyche artinya jiwa dan logos artinya ilmu pengetahuan. Jadi psikologi berarti ilmu pengetahuan tentang jiwa atauilmu jiwa.
Menurut Wundt (dalam Devidoff, 1981) psikologi itu merupakan ilmu tentang kesadaran manusia (the science of human consciousness). Dari batasan ini dapat di kemukakan bahwa dalam psikologi, keadaan jiwa di refleksikan dalam kesadaran manusia. Unsur kesadaran merupakan hal yang dipelajari dalam psikologi.
Sedangkan Branca (1964) menyatakan bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia. Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataannya: “when the interest of men turns the action of human beings, and when that interest takes the form of accurate observation, exact desriptions, and experimental study of human behavior, the science of psychology emerges” (Branca,1964:2).
 Menurut Morgan (1984: 4) psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan binatang, tetapi sebenarnya dia senada dengan Branca. Karna para ahli psikologi juga mempelajari perilaku binatang dengan maksud agar hasil penelitia tentang binatang bisa dimanfaatkan dalam mempelajari perilaku manusia.
Maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi Psikologi adalah kumpulan dari elemen-elemen yang membentuk prosedur-prosedur pengolahan dan berinteraksi untuk memperoleh data yang telah diproses/diolah ke dalam sebuah formulir bentuk  yang dapat dijadikan dasar kajian analisis atau kesimpulan mengenai  ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan serta mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala jiwa untuk mencapai tujuan tertentu dan suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan kemudian di proses/ diolah untuk dijadikan kajian dasar analisis mengenai perilaku manusia.
Daftar Pustaka
Dakir. (1993). Dasar-dasar psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Gaol, C. J. L. (2008). Sistem informasi managemen. Jakarta: Grasindo
Hutahaean, Jeperson. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish.
Basuki, A M Heru. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Restu Ibu. 

Tuesday, 9 June 2015

TUGAS SOFTSKILL - TERAPI REALISTIS

Glasser (1975) memperkenalkan terapi realitas sebagai salah satu pendekatan terapi untuk mengatasi berbagai bentuk gangguan psikologis. Sebagai seorang psikiater, ia banyak menemukan kenyataan bahwa berbagai gangguan psikologis yang dialami oleh pasien, yang dirawat di rumah sakit, dilandasi oleh upaya pasien melarikan diri dari tanggung jawab hidupnya. Karena landasan utama terapi realitas adalah untuk memenjarakan pasien untuk bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dilakukannya, dan bukan membenamkan diri dalam perasaan-perasaan yang dialaminya.
TEKNIK-TEKNIK DALAM KONSELING TERAPI REALITAS :
1.  Menggunakan role playing dengan konseli
2.  Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks
3.  Tidak menjanjikan kepa da konseli maaf apapun, karena terlebih dahulu  diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien.
4.  Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya.
5.  Membuat model - model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik.
6.  Membuat batas- batas yang tegas dari s truktur dan situasi terapinya
7.  Menggunakan terapi  kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas.
Konsep penting yang dikemukakan Glasser dalam melakukan terapi realitas adalah:
1. Setiap orang harus diberi pemahaman bahwa dirinya bertanggung jawa atas penderitaannya. Ia tidak boleh membebankan tanggung jawabnya kepada orang lain
2. Individu harus menyadari bahwa sejarah hidup tak dapat kembali diulang. Kembali ke masa lalu adalah hal yang tidak mungkin, yang harus dilakukan adalah mengubah diri sendiri untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan
3. Individu harus belajar berinteraksi dengan orang lain karena setiap hubungan interpersonal adalah hal yan unik, dan individu harus belajar membina hubungan yang unik sesuai dengan keunikan hubungan interpersonalnya.
4. Alam ketidaksadaran tidak bias dijadikan oleh individu sebagi penganggu. Ia harus bias bertanggung jawab atas hal-hal yang diperbuatnya
5. Harus ada pengakuan benar-salah, oleh karena itu harus ada peraturan yang mengatur individu
6. Individu harus bertingkah laku sesuai dengan kondisi yang ada.


DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa, S. D. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Clinebell. H., (2002). Tipe-tipe dasar pendampingan dan konseling pastoral. Yogyakarta. Kanisius

Monday, 27 April 2015

ANALISIS TRANSAKSIONAL



ANALISIS TRANSAKSIONAL
A.    Konsep Terapi
Analisis transaksional (AT) adalah suatu pendekatan psikoteraputik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis (Cooper & Turner, 1996). Analiss transaksional – gagasan Eric Berne (1910-1970) – merupakan suatu pengaruh di antara manusia yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan eksperesi diri).

Tujuan Berne ialah untuk mensisntesiskan gagasan-gagasannya dengan menggunakan istilah-istilah yang dapat dipahami, sehingga klien dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengorganisasikan arah penanganannya sendiri. Pembuatan kontrak yang sepakati menyatukan klien dengan terapis dalam suatu usaha bersama. Tinjauan teoritik tentang analisis transaksional dikaitkan dengan suatu pendektan yang mengaitkan internal (intrapsikis) dengan interpersonal dan relasional. Pada intinya, makna analisis transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan-kemampuan menghadapi (coping) dan mengatur (regulatory) situasi yang paling dalam interaksi kehidupan nyata.

B.     Unsur-Unsur Terapi
Analisis transaksional meyakini pada diri individu terdapat unsur-unsur  kepribadian yang terstruktur dan itu  merupakan satu kesatuan yang disebut dengan “ego state”. Adapun unsur kepribadian itu terdiri dari kategori:
¾    keadaan ego (ego states)
¾    Transaksi (transactions)
¾    Permainan dan drama segitiga (games and the drama triangle)
¾    Naskah (Scripts)
¾    Gerakan dan lakon cerita (stokes and scriptwork)
¾    Posisi kehidupan (life positions)
¾    Perintah dan keputusan ulang naskah (script injuctions and redocision)

Tujuan dan sasaran analisis transaksional :
Tujuan dasar dari analisis transaksional adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan manipulative dan oleh scenario-skenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup yang otonom yang ditandai oleh kesadaran, spontanitas dan keakraban. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi keputusan-keputusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang mandul dan determistik

Peranan konselor :
    Berusaha memberikan tanggung jawab kepada klien atas kehidupannya. Karena pada hakekatnya manusia bertanggung jawab atas kehidupannya.
    Menyediakan lingkungan yang menunjang. Untuk mencapai perubahan klien atau keseimbangan klien, konselor berusaha sebagai penyedia fasilitas yang mendorong perubahan pada klien.
    Memisahkan mitologi dan realitas, karena banyak klien yang dipengaruhi oleh mitologi yang telah lama didapatnya.
    Melakukan konfrontasi atas keanehanyang tampak, keanehan atau keadaan ego state klien yang tidak seimbang dapat diperbaiki konselor dengan melakukan konfrontasi. Konselor hendaknya bisa mengkonstruksi menjadi seimbang.
C.    Proses konseling analisis transaksional
Proses terapi analisis transaksional ini dilakukan tiap transaksi yang dianalisis. Klien yang nampaknya mengelakkan tanggung jawab diarahkan untuk menerima tanggung jawab pada dirinya. Tahapan proses konseling analisis transaksional :

    Bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak dengan klien, baik mengenai masalah ataupun tanggung jawab kedua belah pihak.
    Pada bagian kedua baru mengajarkan klien tentang egois state nya dengan berdiskusi.
    c. Membuat kontrak yang dilakukan klien sendiri, yang berisikan apa yang akan dilakukan klien, bagaimana klien akan melangkah, dan klien tau kapan kontraknya habis.
    Setelah kontrak ini selesai, baru konselor bersama klien menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan konseling.

D.    Teknik-teknik Analisis Transaksional
Teknik-teknik analisis transaksional banyak menggunakan teknik pendekatan gestalt. James Jongeward (1971) mengkombinasikan konsep dan proses analisis transaksional dengan eksperimentasi gestalt dan kombinasi ini memberikan hasil yang menjanjikan pada self-awareness dan autonomy (Corey, 1986).

Metode Didaktik (Didactic Method)
Prosedur mengajar dan belajar adalah dasar dari pendekatan ini.

 Metode Kursi Kosong (Empaty Chair)
Teknik ini merupakan adopsi dari pendekatan gestalt, teknik ini biasa digunakan untuk structural analysis. McNeel mendeskripsikan bahwa teknik yang menggunakan dua kursi ini merupakan cara yang efektif untuk membantu konseling untuk mengatasi konflik masa lalu dengan orang tua atau orang lain pada masa kecil.
  Bermain Peran
     Penokohan Keluarga (Family Modelling)
Daftar Pustaka
Roberts, Albert. J, Gilbert. (2009) Buku Pintar Pekerja Sosial. BPK Gunung Mulia